Bahkan Mbak Indri menjanjikan macam-macam agar aku tidak terus menangis. Bokep Cina Tante Maya dan Oom Joko juga berpakaian seperti mau pesta. Begitu dekatnya sehingga aku bisa merasakan kehangatan hembusan napasnya menerpa kulit wajahku. Padahal Ayah paling sayang padaku. “Ayo dong, jangan diam saja…”, bisik Linda disela-sela tarikan napasnya yang memburu. “Ohh…”, Linda mengeluh panjang.Dia seakan baru benar-benar menyadari kalau aku bukan hanya tidak pernah pacaran, tapi masih sangat polos sekali. Dan aku selalu menganggapnya sebagai teman biasa saja. Memang tingkahku tidak ubahnya seorang anak balita.Tangisanku baru berhenti setelah Ayah berjanji akan membelikanku motor. “Okh…?!”. Karena terus-menerus memuji dan membuatku bangga, dengan hati dipenuhi kebanggaan aku meminjaminya. Sedangkan aku sama sekali tidak mengerti. “Jangan lupa jam tujuh malam, ya..” kata Tante Maya mengingatkan.




















