“Aku menyayangimu, Boy. Bokep SMA Terima kasih, Ning. Aku tidak melihat Mbak Ning. Aneh. Mungkin – sedang sibuk. Ya kan Cynthia?” candaku sambil mengusap kepala Cynthia. Aku berhasil memasukkan jariku dan menyentuh vaginanya. Apakah rayuan, apakah pujian yang tulus, atau hanya bunga bahasa untuk tujuan tertentu. Atau langsung saja mengajaknya bercinta? Lagipula, panggilan “Cie” akan membuatnya merasa lebih muda. “Udah kira-kira 2 bulan yang lalu, Boy.” Jawabnya. Setelah – agak tenang aku kembali memasukkan penisku. Tapi memang tadi aku sangat takut melangkah. Memeluknya? Nafas Tante Yeni semakin memburu. Terima kasih buat semuanya. Aku tahu pikirannya memang menolak, tapi tubuhnya tidak. Sisi lembutnya tetap ada. Ada Cynthia dan Mbak Ning di rumahnya. Aku tidak mengada-ada. Aku pun begitu. Kurasakan tanganku tertahan.




















